Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Indeks Berita

Rektor UIN-SU danUNIKI Narasumber International Conference on History Of Indonesia Islam Economic

Sabtu, 21 Agustus 2021 | Agustus 21, 2021 WIB | 0 Views Last Updated 2021-08-22T02:19:30Z

 

Rektor UIN-SU Prof Syahril Harahap,21/08

MitraInfo.com--Aceh, Rektor UIN-SU Prof Syahrin Harahap dan Rektor UNIKI, Prof Dr Apridar menjadi narasumber dalam konferensi internasional, terkait “Contibution of Islamic Ekonomi Thought in Supporting Regional Economic Growth” yang digelar Universitas Islam Negeri Sumatera Utara (UIN-SU) bekerjasama dengan Universitas Islam Kebangsaan Indonesia (UNIKI), di Aula Kampus tersebut - Sabtu (21/08/2021).



Konferensi Internasional tersebut, mempertemukan pakar ekonomi syariah dari University of Malaysia, Assoc. Prof. Dr. Amir Shaharuddin, Universitas Sumatera Utara – dan Aceh. Diantaranya Rektor UIN-SU Prof Dr Syahrin Harahap, M.A, Rektor UNIKI Prof Dr Apridar, Dekan FEBI UIN-SU Dr. Muhammad Yafiz, M.A dan Ketua Ikatan Ahli Ekonomi Islam Sumatera Utara, Dr Azhari Akmal Tarigan, serta Dosen Magister Manajemen UNIKI yang juga menjabat Ketua Ikatan Alumni S3 Manajemen Pendidikan UNJ Jakarta Dr Raihan Iskandar, Lc, M.M, sebut Ketua Panitia Ir. Pandapotan, M.M.



Dalam pengantarnya, Rektor UIN-SU Prof Syahrin Harapap menyatakan, kita terus kembangkan pemikiran islam dalam mendukung system ekonomi, sehingga terciptalan ekonomi islam yang dinamis.

Oleh karenanya, Syahrin mengajak para peserta konferensi untuk mensosialisasi sekaligus menyumbangkan pemikiran efektif agar ekonomi islam menjadi suatu yang harus dibanggakan dalam menjalankan ekonomi demi kesejahteraan orang banyak.



Karena menurut saya, sebut Syahrin ada 4 tokoh yang berperan besar dalam membentuk fenomena, yakni pertama Tuhan, kedua para tokoh yang berpengaruh, ketiga pemikiran besar tentang sesuatu yang bisa menjadi model, dan keempat ekonomi. 



Pemikiran sangat penting,  karena dengan pemikiran kita ketahui dan dalami tentang apa yang terjadi, dan pesan apa yang disampaikan dari peristiwa satu ke peritiwa lainnya, lengkap Prof Syahrin.



Rektor UNIKI, Prof Dr Apridar dalam paparannya menyatakan Ekonomi berbasis Islam, atau lebih dikenal dengan sebutan Ekonomi Islam belakangan menjadi rule models, bagi sistem ekonomi di belahan dunia. Pelaku sistem ekonomi konvensional secara massif mulai beralih kepada sistem ekonomi Islam (syariah). 



"Hal ini menjadi titik tolak bagi Negara Indonesia sebagai penganut Islam mayoritas untuk memberi contoh yang lebih “radikal” bagi Negara-negara lain, sebutnya.



Di saat sistem ekonomi non Islam mengalami krisis di belahan dunia saat ini. Ekonomi Islam pelan-pelan menjadi solusif bagi masyarakat dunia. Ekonomi Islam hari ini benar-benar menjadi solusi dari krisis global. Karena ada unsur penting dalam ekonomi Islam yang menjadi inspirasi bagi non muslim, yakni berlandaskan kejujuran, produktivitas dan berdaya guna. 



"Akhir dari proses dalam ekonomi Islam, adalah untuk mendapat barakah dari Allah sebagai pencipta manusia, urai Guru Besar USK ini".



Diakui atau tidak, Islam ternyata berbeda dengan agama-agama besar lainnya. John Thomas Cummings dkk dalam Islam dan Perubahan Ekonomi Modern (John L. Esposito; 1986) menyebutkan bahwa Islam memberikan penganutnya suatu ajaran terperinci tentang sistem ekonomi, terutama berkaitan dengan masalah-masalah perpajakan (zakat), pengeluaran pemerintah, warisan, hak-hak pribadi, kesejahteraan sosial dan ekonomi (pembagian pendapatan, kemiskinan, dan hal-hal lain), bunga uang, pemilikan tanah, sumber alami, tingkat gaji dan lain sebagainya. Dan semua ini harus dipelajari oleh ekonom islam, harap Apridar.



Menyinggung tentang praktik bank syariah di provinsi Aceh, Apridar menyatakan;  “seharusnya perkembangan bank syariah di Aceh jauh lebih cepat mengingat provinsi ujung barat Sumatera itu memberlakukan syariat Islam. Pemandangan kontras terlihat antara bank konvensional yang dipenuhi puluhan masyarakat saban hari, sedangkan kantor bank syariah selalu sepi nasabah yang mengantre”.



Masyarakat Aceh dipastikan mengetahui bahwa bunga bank itu riba (haram). Namun lambannya perkembangan bank syariah di Aceh disebabkan kurangnya pemahaman masyarakat tentang operasional bank syariah, lanjut mantan Rektor Unimal ini. 



Oleh karena itu, sebut Prof Apridar, perlu dukungan semua pihak, untuk memberikan pemahaman terhadap masyarakat tentang perbankan syariah dengan segala kelebihannya.  



Baik dukungan dari pemerintah, ulama, asosiasi perbankan, perguruan tinggi, serta kelompok keuangan mitra bank (KKMB).

Potensi lain yang bisa digunakan untuk mensosialisasikan sistem perbankan syariah adalah Konsultan Keuangan Mitra Bank (KKMB). 

Selama ini, KKMB terkesan berjalan sendiri tanpa dukungan pemerintah kabupaten/kota. Padahal, organisasi ini berperan besar menghubungkan UMKMK dengan perbankan, pungkas Prof Apridar.



Peserta konferensi internasional tersebut, umumnya dihadiri oleh mahasiswa Manajemen dan Ekonomi Islam dari 18 perguruan tinggi dan praktisi ekonomi.  Diantaranya, UIN-SU, UNIKI, STIES Stabat, UMSU, Politeknik LP3M Medan,  STIE Bina Karya Tebing Tinggi, Politeknik Unggul LP3M Meda, STAIBR Kabupaten Padang Lawas, Politeknik Negeri Lhokseumawe, Univ.Muhammadiyah Pekan Baru, Universitas Malikussaleh, STKIP Budidaya, STAI Jama'iyah Mahmudiyah Tanjung Pura, STAI HM Lukman Edy, AMIK Medicom Medan, dan Institut EHMRI.(Red)


×
Berita Terbaru Update