Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Indeks Berita

Ketua Kesenian Aceh Bireuen, Gelar Festival Toet Buede Trien

Jumat, 12 November 2021 | November 12, 2021 WIB | 0 Views Last Updated 2021-11-12T05:08:34Z

 

Ketu Grup Festival Toet Buede Trieng, Kamis, 11 /11

MitraInfo.com--Ketua Umum kesenian Aceh  Bireuen H. Muhklis SH bekerjasama dengan Dewan Kesenian Aceh (DKA) Kabupaten Bireuen, Bersama Dinas Pendidikan dan Kebudayaan dan Polres Bireuen, mengelar Gemilang Budaya Bireuen “The Light of Paradise Land”, di lapangan Paya Kareung, Kamis, 11 /11/ 2021.


Kegiatan ini dalam rangka mengenang jasa Pahlawan, ketua kesenian Aceh Bireuen Muhklis SH melakukan kegiatan Festival  ‘Toet Buede Trieng’ diikuti 17 Regu Semua Kecamatan dalam lingkup Kabupaten Bireuen yang berlangsung di lapangan Balo kaki Panyae Kareeng, Per satu regu 6 orang peserta.

Kegiatan Gemilang Budaya Bireuen “The Light of Paradise Land”, berlangsung tertib dan aman ,semua peserta Tertipkan   protkes, Kegiatan ini juga dibuka Oleh Bupati Bireuen, DR.H.Muzakkar.A.Gani SH.MSi, dikesempatan itu ‘ ia menjelaskan bahwa Sejarah dan Budaya sangat perlu kita jaga bersama, oleh itu dengan terlaksana kegiatan seperti ini, regenerasi penerus dapat terus mengembangkan berbagai aneka budaya bangsa.


Pantauan media ini terlihat jelas, Ketua kesenian Bireuen Mukhlis SH terjun langsung untuk menyaksikan Festival Perlombaan di lokasi Toet Buede Trieng’dalam 17 Kecamata mulai dari Samalanga Sampai Gandapura. 


Festival ‘Toet Buede Trieng’ ini baru pertama kali diselenggarakan di Kabupaten Bireuen.

“Toet Buede Trieng’ adalah salahsatu warisan budaya yang terdapat di beberapa daerah di Aceh adalah teut bude trieng atau dalam bahasa Indonesia disebut," yalakan meriam bambu".


Meskipun beberapa tradisi lain mulai hilang digerus masa dan oleh generasi sekarang menganggapnya aneh, namun untuk tradisi yang satu ini masih begitu populer dan di pertahankan oleh masyarakat Aceh.


Aktivitas teut bude trieng lazimnya dilakukan saat malam hari di bulan puasa dan hari raya.
Namun demikian, jika ditelisik lebih mendetail ternyata asal muasal adanya tradisi teut budee trieng ini sudah ada sejak puluhan tahun lalu.


Latar belakang tradisi ini disebutkan terinspirasi dari masuknya portugis ke Aceh. Hal ini dibuktikan dengan fakta dimana tiap wilayah manapun yang dijajah Portugis, masyarakatnya memiliki tradisi menyalakan meriam bambu, seperti halnya di Malaysia.


Sementara itu, ada juga versi lain yang mengatakan, bahwa tradisi teut bude trieng ini mulai ada pada era kesultanan Iskandar Muda, yang sengaja dipolakan sebagai sebuah cara atau aktivitas mengenang perang Badar yang terjadi pada hari ke 2 dibulan Ramadhan–sebuah perang terbesar saat Rasulullah masih hidup,”makanya tradisi ini marak dilakukan oleh masyarakat Aceh dibulan Ramadhan atau saat lebaran tiba.


Namun demikian, menurut beberapa pendapat ahli sejarah, tradisi teut budee trieng ini sempat menghilang selama lebih kurang 32 tahun lamanya, tepatnya saat Aceh dilanda konflik berkepanjangan dengan pihak Jakarta (Pemerintah Pusat) yang merenggut ribuan korban jiwa.


Saat konflik terjadi di Aceh memang banyak aktivitas warga yang dilarang. Karena asumsi pihak keamanan Republik Indonesia, kegiatan semacam itu dapat membuat warga tidak nyaman.


Baru dikemudian hari setelah adanya perjanjian damai antara pemerintah RI dan GAM, tradisi teut budee triengtersebut kembali dapat dinikmati warga saat penyambutan hari raya Idul Fitri dengan bunyi dentumannya yang menggelegar.


Festival ‘Toet Buede Trieng’ yang diselengarakan DKA Bireuen,ada lima aspek yang dinilai ,pertama masalah suara (bunyi), kedua kekompakan Tim, ke tiga aspek nilai budaya, ke empat ornamen (hiyasan)dan yang ke lima ketahanan bambu dan para peserta.


Hal ini seperti dikatakan Ketua Dewan Juri ZIkri.


Untuk Juara Pertama, Festival ‘Toet Buede Trieng’,diraih oleh Kecamatan Juli Bireuen dengan nilai 1249,Mereka mendapatkan Dana Binaan sebesar Ro.10.000.000 dari Ketua Umum kesenian Aceh Bireuen yang juga Direktur Utama PT.Takabeya Perkasa Group , H.Mukhlis SH, Untuk Juara Kedua diraih Kecamatan Jangka dengan Nilai 1235 dengan Dana binaan sebesar Rp.3.500.000, dan untuk Juara Ketiga di Raih oleh Kecamatan Simpang Mamplam dengan nilai 1202 diberikan juga Dana binaan sebesar RP.2.000.000.


Ketua Umum Kesenian Aceh Bireuen, Mukhlis SH yang lebih dikenal Muhklis Tabenya menyampaikan, sangat bangga melihat Antusias masyarakat dalam rangka menyaksikan perlombaan Festival" Toet Buede Trieng', seru Ujar Muhklis.(**)
 

×
Berita Terbaru Update